Saturday, June 1, 2013

BUKAN! Cerita Cinta Anak SD


Kala itu aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Mungkin aku beruntung, Tuhan memberikan salah satu anugrahnya begitu cepat. Bahkan bisa dikatakan terlalu cepat untuk bocah seusia ku. Namanya Nia, ya sebut saja begitu. Gadis kecil berparas cantik nan indah akhlaknya. Nia dilahirkan dalam sebuah keluarga yang berkecukupan lebih. Berbeda dengan ku yang terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana dengan keterbatasan ekonomi. Banyak anak laki-laki seusia ku yang menyukainya, tak salah memang. Selain cantik, Nia dikenal begitu pandai dan baik hati bahkan untuk anak perempuan seusianya ia sudah fasih mengaji. Tuhan menciptakannya begitu sempurna, tapi apalah daya ku karna dulu perasaan itu hanyalah sebatas kekaguman anak laki-laki terhadap teman wanitanya.

Aku dan Nia adalah teman mengaji disalah satu madrasah disekitar wilayah tempat kami tinggal. Dulu semasih cinta itu kelam, aku tak pernah tau dan tak pernah ingin tau apa yang ia rasakan kepadaku. Bahkan aku tak pernah berfikir jikalau nantinya ia tau tentang perasaan ini. Perasaan yang ku jaga baik-baik. Apalagi hasrat untuk bisa bersatu, mungkin aku perlu tertawa dalam masjid dan berteriak "Siapa aku ini? . . ."

Sahabatku saat itu sebut saja Abdul. Hanyalah orang satu-satunya yang tau tentang perasaan ini. Terkadang Abdul sering membuat candaan agar aku lebih berani untuk menyapa dan mendekati Nia. Tapi aku tak pernah suka caranya itu. Bahkan teman-teman Nia sudah mulai melakukan hal yang sama. Damn! Betapa malunya ketika aku merasa seperti dipasang-pasangkan.

Selang beberapa waktu, aku merasa Abdul mulai menjauhi ku. Padahal sebelumnya tak pernah terjadi permasalahan hebat diantara kami berdua. Hari yang penuh tanda tanya dibenak ku akan perubahan sikap Abdul. Tak lama sebuah berita mengejutkan yang terkesan dirahasiakan muncul. Ternyata Abdul diam-diam juga menyukai Nia. Abdul memberikan barang kepada Nia dan secara langsung mengatakan bahwa selama ini, dia memendam rasa kepada Nia. Itu hanyalah sedikit kabar yang aku dengar, entah kejadian sesungguhnya seperti apa aku tak pernah tau. Tapi semenjak kabar itu mulai beredar, hubunganku dengan Abdul mulai renggang. Jika cinta itu memang hadir dalam dirinya. Aku tak pernah melarang toh aku tak pernah punya niat untuk mendekati Nia sedikitpun. Jika tak salah dengar kabar, Nia marah dan tak suka dengan kelakuan Abdul dan membuat hubungan mereka malah makin menjauh.

Aku dan Nia memang tak sekelas saat mengaji. Aku sengaja mencari kelas yang berbeda agar konsentrasiku tak buyar dalam kelas. Nyatanya dalam ketidaksengajaan kami sering berpapasan dan memandang satu sama lain. Tak ada kelas layaknya sekolah pada umumnya. Kami mengaji masih dalam satu masjid tanpa dinding yang membatasi antar kelas. Proses belajar pun lesehan hanya dengan kursi panjang setinggi dada untuk menjadi meja saat kami belajar. Aku tak bisa berbohong bahwa aku memang suka meliriknya diam-diam. Dan bahkan beberapa kali saling tersipu malu karna tertangkap saling memperhatikan. Tuhan merencanakan kebetulannya begitu indah. Dan kebetulan yang selalu aku tunggu-tunggu.

Setelah segilintir cerita berlalu rasa ini mulai lancang. Aku mulai berfikir dan menerka akan perasaan Nia padaku. Entahlah, tapi rasanya ini sangat menyebalkan. Harus menerka-nerka perasaan seseorang. Sungguh rasanya sangat tak pantas.

****

Suatu sore ketika aku hendak pergi ke masjid untuk mengaji, terlihat samar beberapa orang teman Nia berkerumun di pagar masjid. Entah apa yang mereka cari atau siapa yang mereka tunggu aku tak peduli. Tapi semakin aku mendekat, mereka semakin geram dan bersiap melakukan sesuatu.
“Oh Tuhan, betapa anehnya sore ini”, sedikit ku menggumam dalam hati.

Dan apa yang aku khawatirkan terjadi. Ketika aku melintasi pagar dengan penuh tanda tanya di kepala, tepat saat itu seorang dari mereka memegang tanganku dan meletakkan secarik kertas dilipat rapi ke dalam genggamanku.
"Harus dibaca ya . .", Sorak seorang dari mereka lalu berhamburan pergi meninggalkanku.

Kejadian aneh yang mungkin sukar untuk dilupakan. Sore itu aku seperti dihadapkan dengan sebuah permainan baru. Setelah cukup lama bertanya-tanya apa isi dari secarik kertas ini, aku bergegas mencari tempat aman untuk membacanya. Dikamar mandi belakang masjid aku bersembunyi dan sejenak ku pandangi kertas yang tergenggam ditangan ku ini. Kertas itu bergambarkan sebuah zodiak bertuliskan capricorn, itu zodiakku. Jujur saat ini aku tak ingat betul isi seluruh surat itu. Tapi yang pasti pengirimnya adalah Nia, seperti dugaanku sebelumnya. Awalnya aku mengira Nia tak nyaman dengan ku yang suka meliriknya diam-diam. Ternyata aku salah, nyatanya ia menyimpan perasaan yang sama seperti ku dan bahkan ia berharap untuk bisa bersama. Aku termenung beberapa saat. Tak ada pemandangan indah yang menemani menikmati rasa yang terbalaskan saat itu. Mungkin Nia begitu geram denganku yang tak kunjung merespon lebih perasaannya. Hingga melakukan hal yang menurutku sendiri sedikit nekat.

Tapi tiba-tiba pertanyaan itu terlintas lagi dalam benakku. “Siapa aku ini? . . .”
Aku rasa, banyak anak laki-laki seusia ku yang mempunyai kelebihan dibanding diriku ini. Tapi kenapa Nia malah memilih aku? Aku tak bisa membiarkan perasaan ini berjalan terlalu jauh, cukup aku saja dan menyimpannya diam-diam.

Dalam surat itu, aku baru menyadari sebuah hal yang sudah Nia ketahui terlebih dahulu. Ternyata tanggal, bulan dan tahun kelahiran kita hanya berbeda satu angka dan angka-angka itu sangat berurutan.
Aku : 07 Januari 1993
Nia : 08 Februari 1994
Sungguh ini lelucon yang menyesakkan hati. Sekali lagi aku yakin ini hanya kebetulan yang telah direncanakan Tuhan. Kebetulan yang mungkin lebih dari indah.

Beberapa hari setelahnya, aku membalas surat dari Nia. Surat bergambar aquarius, zodiaknya. Dengan hati-hati ku tulis agar tak menyakiti perasaannya. Bahwa untuk saat ini aku tak bisa  menjalani sebuah hubungan. Sungguh kita masih terlalu kecil untuk memikirkan jalan ini. Mungkin butuh empat, lima atau enam tahun lagi ketika dewasa mulai membentuk kepribadian masing-masing. Apakah dia akan merasakan hal yang sama ? Aku rasa tidak :)

Namun satu paragraf diatas hanyalah sebuah kalimat ketegaranku semata. Karna sejujurnya aku juga ingin perasaan ini bisa bersama. Tapi alasan yang sampai detik ini mungkin Nia pun "tak pernah tau" adalah aku merasa tak pantas karna aku memang bukan dari keluarga berada. Hanya itu yang selalu menghantui perasaan ini. Aku merasa berdosa menyimpan rasa untuk seorang gadis yang begitu sempurna dimataku. Mungkin Nia bisa saja mengatakan "aku tak peduli latar belakang keluargamu", karna memang sebelumnya Nia sudah tau keadaanku seperti apa. Tapi jujur aku tak pernah bisa berhenti memikirkan hal itu. Aku selalu merasa memendam perasaan yang salah. Tak seharusnya aku memeliharanya hingga lancang seperti ini. Bukan aku tak bersyukur dengan keadaanku, hanya aku merasa tak pantas untuk dirinya, Nia.

Apakah aku berdosa menyalahkan anugrah ini ?
Cinta memang bisa datang kapanpun, dimanapun dan pada siapapun. Dan Tuhan telah membuktikannya. Setelah semuanya berlalu hubungan kita sedikit meredam. Tapi, tetap saja kebiasaanku untuk melirknya diam-diam tak pernah bisa hilang. Aku tak pernah tau perasaannya saat itu atas balasanku, entah kecewa atau mungkin ia membenciku. Yaa aku tak pernah tau sampai detik aku menulis cerita ini.

****

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, aku memutuskan untuk berhenti mengaji di madrasah dan memilih untuk mengaji dirumah. Begitu pun dengan Nia. Sejak aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga akhirnya lulus, kami tak pernah bertemu atau bahkan saling mendengar kabar. Jaman itu ponsel memang masih sangat jarang digunakan, apa lagi untuk anak seusia ku sehingga untuk sekedar bersilaturahmi sangatlah susah.

Rindu memang agak sedikit menggelitik perasaanku untuk segera bersua dengan Nia. Dan untungnya aku mendapatkan kabar dari teman semasa SD dulu yang ternyata teman Nia di SMP, bahwa Nia akan mendaftarkan dirinya di salah satu SMA favorit. Dengan harap agar bisa bertemu dengannya, aku pun mendaftarkan diri disekolah itu. Bukan berharap bisa sekolah dengan sekolah yang sama namun berharap saat tes masuk, aku bisa bertemu dengan Nia. Hanya sekedar ingin bertemu pada saat tes saja, tak lebih. Karna aku tau aku tak mungkin sekolah di SMA favorit yang biaya dan pergaulannya memang tak setaraf dengan keadaanku.

Hari itu tiba, dimana tes masuk sekolah favorit itu berlangsung. Sebelum tes dimulai, aku berkeliling untuk memastikan dan sekedar ingin bertemu dengan Nia. Tapi usaha ku sia-sia, tak ku lihat Nia disudut sekolah ini. Akhirnya bel menandakan tes akan segera dimulai, aku selesaikan lembar demi lembar jawaban yang bahkan soalnya pun “tak aku baca”. Setelah tes berakhir, aku keluar dari ruangan itu dengan tatapan pasrah. Mungkin saat itu Tuhan belum mengizinkannya. Aku sangat kecewa, iya. Di detik-detik itu Tuhan memang belum mengizinkan, tapi bukan berarti Tuhan tidak mengizinkan bukan ? Di detik selanjutnya aku melihat sesosok gadis yang sudah bertahun ini aku rindukan. Andai saja detik itu waktu terhenti, setidaknya aku punya banyak waktu untuk menatapnya lebih lama lagi. Tak ada yang berubah dari dirinya, lesung pipi yang manis, parasnya yang cantik. Sengaja aku tak menyapa, bagiku melihatnya dari kejauhan saja sudah lebih dari cukup.

Masa SMA hampir berlalu, dan Tuhan pun mempertemukan lagi aku dengannya. Kita mulai dipertemukan walau hanya dalam dunia maya. Mulai berteman dalam facebook, twitter hingga BBM. Saling bersapa kabar dan sudah mulai terbiasa dengan keberadaan satu sama lain. Baru kali itu, aku berani sekedar menanyakan kabarnya. Lebih dari enam tahun cerita itu berlalu dan ku rasa Nia sudah melupakan tentang secarik kertas dan perasaannya. Tak disangka kami lolos dalam satu universitas, padahal sebelumnya tak ada kesengajaan yang aku lakukan sama seperti saat SMA dulu. Kami masih dalam satu fakultas namun berbeda jurusan. Awalnya sulit menerima keberadaannya, apa lagi sampai bertatapan muka dengannya.

Tak bisa dihindari hal itupun terjadi. Dimana aku dan Nia tak sengaja berpapasan walaupun ada sedikit rasa malu untuk saling menyapa. Momen enam tahun lalu itu seakan-akan menjadi kenangan indah. Kenangan yang sama-sama kita simpan dengan cara kita masing-masing. Dugaan ku tepat, rasa yang dulu pernah ada kini sudah hilang begitu saja seiring berjalannya waktu. Bahkan aku pun tak tahu Nia masih mengingatnya atau tidak. Bisa saja ia malu untuk mengakuinya. Bisa saja.

Tapi kenangan itu tetaplah menjadi sebuah cerita bagiku. Cerita yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Mungkin saat itu memang bukan waktu yang tepat bagi seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tapi dari pengalaman itu aku belajar, bahwa cinta tak semestinya mempertimbangkan status sosial. Harta dan cinta adalah titipan. Jika kita sudah dilimpahkan salah satu atau keduanya, kita bisa berbuat apa? Tugas kita hanya mensyukuri dan menikmati itu sebagaimana mestinya. Sebagaimana aku menyukai gadis kecil itu enam tahun silam.


Bagiku ini bukanlah cerita cinta anak SD. Karna aku yakin tak banyak anak SD yang mampu berfikir jauh seperti apa yang dilakukan oleh tokoh "aku". Berfikir untuk mempertimbangkan anugrah bernama cinta.

*diangkat dari kisah nyata penulis. Mencoba menulis dengan gaya bahasa yang berbeda. Thanks untuk yang sudah baca


Wassalam
Bocah Saico

15 comments:

  1. Huaaahh berasa #jleb dihati.. kisah cinta2an itu ku alami juga.. tapi beda versi.. versi anak kuliahan.. kesenjangan sosial... oh tidakk..

    ReplyDelete
  2. waaaaaa ceritanya bagus banget rif :)
    ini kisah nyata bukan? jangan2 buat #NBBE ??
    Endingnya bagus, terkadang kita tak pernah memikirkan apa yg akan terjadi di kemudian hari
    awalnya kamu ingin ketemu si Nia, eh tapi pas kuliah malah satu fakultas.. wkwkwkkwkw
    kereeen

    ReplyDelete
  3. walah...cerita anak SD yang keren...

    em,,dewasa dan berfikir luar biasa ternyata bang arif pas masih kecil ya :P

    ReplyDelete
  4. bagus ya ceritanyaaaaa :')

    kecil-kecil udah kenal cinta..
    lucu ih :3

    ReplyDelete
  5. bang lu mah terlalu merendah, but gue juga gitu waktu jaman2 SD. hehe
    enak bang ceritnya, suatu saat mungkin tuhan punya rencana NIA dan bang Oges ini berjodoh AMIN..

    ReplyDelete
  6. Mungkin tuhan berencana menjodohkanmu dengan nia di kelak hari nanti.meski masih dalam skenario tuhan dan menjadi terusan dari cerita diatas :p

    ReplyDelete
  7. gue sampe speechless liatnya, gak nyangka banget bang ayip bisa sedahsyat ini dalam bercerita .
    keren banget sumpah, ini kisah nyata kan ?
    aura dari cerita yang berdasarkan kisah nyata itu emang ngena banget lohh :bd

    ReplyDelete
  8. ciyus lu bang?

    nia pasti cakep, kyk temen gua dulu waktu mi (setingkat sd).. cuman sekarang gua udah g tau dimana nia itu berada... kalo elu masih mending bang, bisa diketemuin lagi

    ReplyDelete
  9. etsah kalimatnya bagus kak
    ya sapa tau si "Nia" baca *uhuk

    ReplyDelete
  10. Jadi pengen nangiss :')

    Terharuu,, :'(

    ReplyDelete
  11. hampir sama kayak kisahku,,,,, (adegan di madrasah)
    tapi aku masih smp, kelas 7 lagi...
    perbedaannya itu..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...